Beranda > Uncategorized > MENGUAK PERSPEKTIF INTERPRETASI GHANIM RESENSI BUKU KRITIK ORTODOKSI

MENGUAK PERSPEKTIF INTERPRETASI GHANIM RESENSI BUKU KRITIK ORTODOKSI

Tafsir Ayat Ibadah, Politik, dan Feminisme

Ataul Ghalib Yudi Hadiana
(Mahasiswa JAMAI smstr. 7)
Prolog
Kitab suci Al-Quran adalah sebuah lautan khazanah dan samudra hikmah yang tiada bertepi dan berujung batas. Semakin tercebur kita mencoba menyelami kedalaman khazanahnya semakin memancar binaran-binaran keindahannya nan cemerlang. Sebuah gambaran indah dikemukakan oleh Hadrat Masih Mau’ud : “Kitab suci Al-quran adalah permata merah delima yang cemerlang dan matahari yang gemilang sehingga nur kebenaran dan kilatan yang mengindikasikan sumber Ilahiah, tidak saja dikemukakan dalam satu tetapi dalam ribuan aspek.” (Minanur Rahman, Ruhani Khazain, vol.9, hal 142, London, 1984).
Al-Quran dikaji dari berbagai segi dan perspektif. Kita mengenal istilah ¬Ulum al-Quran, satu di antara sekian banyak aspek yang menjadi fokus pengkajian adalah berkenaan dengan tafsir. Sebegitu luas makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran, sehingga telah muncul dan berlalu begitu banyak tokoh-tokoh mufassir dalam belantika sejarah ilmu tafsir, mereka mencoba menggali makna tersembunyi yang terdapat dalam ayat-ayat al-Quran dengan berbagai metode dan pendekatan. Mensitir keluasan makna-makna yang terkandung dalam ayat al-Quran, Hadhrat Muslih Mau’ud
mengemukakan : “Rasul Karim saw bersabda bahwa al-Quran memiliki 7 wadah, dan setiap wadah mengandung bermacam-macam makna, dalam hal ini adalah tidak mungkin menulis tafsir al-Quran karim yang dapat memuat makna-maknanya secara keseluruhan. Orang yang mengatakan bahwa ia telah menulis tafsir al-Quran karim dengan sempurna, maka orang itu telah hilang akal atau bodoh .” (Pengantar Tafsir Kabir Jilid 3).
Sejak muncul dan tumbuhnya kajian ilmu tafsir al-Quran, sampai saat ini banyak tokoh penafsir yang menyusun tafsirnya. Mereka menulis penfsirannya sesuai dengan zaman, latar sosial dan frame peradaban serta latar belakang disiplin ilmu yang mereka geluti. Sehingga bermunculanlah tafsir yang beragam corak dengan ciri khas masing-masing, lebih dari itu terkadang bersebrangan satu sama lain.
Mencoba menukil sebagai contoh, berikut ini disajikan sebuah resensi sederhana atas buku Muhammad Salman Ghanim yang melalui bukunya berupaya menawarkan warna tafsirnya sebagai sebuah lontaran kritik terhadap tafsir beberapa ayat megenai Ibadah, politik dan feminisme yang telah ditafsirkan dan diamalkan oleh jamak kaum Muslimin semenjak kurun yang begitu lama.

Muhammad Salman Ghanim adalah salah seorang di antara sekian tokoh pemikir progressif yang mencoba mengkritik dan berontak terhadap interpretasi status quo dan pemahaman yang dianggapnya konvensional, kaku terlalu mengikat, dan tidak dialektis terhadap realitas kekinian dan kedisinian. Ghanim yang berlatar sebagai seorang ekonom beraliran liberal semi sosialis dan hidup dalam lingkungan keagamaan di Kuwait, melalui bukunya ini ia mencoba menghadirkan dan membangun serta menawarkan sebuah wacana dan arus interpretasi baru yang different dengan pemahaman jumhur yang telah mengakar lekat dan mendarah daging terutama sekitar tafsir ayat ibadah, politik, dan feminisme.
Untuk mengusung dan mengelaborasi idenya ia berpijak pada sebuah model pendekatan yang disinyalir menurutnya adalah lebih mempriorotaskan hikmah, prinsip dasar, ghayat, dan tujuan dalam memahami dan men-trasformasi teks-teks al-Quran ke dalam bahasa verbal dan bahasa aplikasi, (hal. 7). Kritik dan sindirannya terkadang terasa sangat tajam dan pedas. Konsep dan buah pemikiran yang diulurkan memang baru, cukup ‘nakal’, melanting dan berlari menjauh ke luar kawasan interpretasi jumhur yang sudah menjadi suatu konsensus yang berjalan hampir tak tergoyahkan dan tak terpertanyakan.
Buku ini dibalut dengan suasana kritik yang kritis, oleh karena itu pembaca hendaknya juga menghadirkan dan menggunakan nalar serta logika berpikir kritis. Ide-ide yang disajikan mencoba mengantar pembaca untuk berpikir ulang atau mempertanyakan, “Apa yang selama ini dijalankan dan tak pernah timbul pertanyaan ‘aneh-aneh’ tentangnya itu benar adanya seperti demikian?”, atau mungkin ada juga yang merasa terusik lalu mencoba mencari dan menggali logika serta argumentasi logis untuk me-rekritik tawaran-tawaran ide yang dielaborasi penulis.
Di bagian awal Ghanim memulai tulisannya dengan sebuah kritik dan sebuah upaya kaji ulang terhadap penetapan waktu dan hakikat shalat dalam Islam. Ide utamanya adalah, menurutnya shalat yang dinarasikan al-Qur’an (11:144) hanyalah terdiri dari 2 waktu. Oleh karena itu penetapan 5 kali waktu shalat menjadi patut dipertanyakan ulang. Di kawasan modernisasi dunia saat ini, terlebih kesibukan orang berlipat ganda, sebenarnya penetapan dua waktu shalat ini adalah kemudahan yang diberikan Allah SWT.
Berikutnya kritikan ia lontarkan terhadap penafsiran mengenai ayat yuthiqunahu. Dalam penafsirannya ia melegalkan orang yang mampu berpuasa untuk tidak berpuasa dengan pembayaran fidyah sebagai penggantinya. Justru ini adalah kesempatan yang dibuka oleh Allah Ta’ala kepada orang kaya untuk share harta kekayaannya dengan orang miskin. Menurutnya peluang ini tidak boleh ‘diberangus’ dengan penafsiran yang mewajibkan semua orang termasuk orang kaya yang mampu berpuasa untuk tidak meninggalkan puasa.
Mengenai zakat ia melemparkan pemikirannya bahwa dalam kondisi zaman dimana uang sudah menjadi sarana jual beli yang memudahkan orang untuk memilih barang yang ia inginkan sesuai kebutuhan pribadinya, maka zakat akan lebih bernilai praktis jika diberikan dalam bentuk uang tunai bukan dalam bentuk barang seperti beras.
Selanjutnya ia mengkritisi pelaksanaan manasik haji dari segi waktu. Menurutnya al-Qur’an menyatakan waktu pelaksanaan haji adalah 3 bulan. Kontras dengan 3 hari yang dilaksanakan saat ini. Haji yang dilaksanakan Rasulullah saw adalah haji pertama dan terakhir, mungkin secara kebetulan saja pelaksanaannya pada tanggal 9, 10, 11 Zulhijah, mengapa harus menjadi baku di tanggal-tanggal itu.
Selanjutnya ia mengkritisi tentang pengharaman khamr. Berikutnya lontaran kritik tentang ¬al-Hukm dan al-Amr.
Berikutnya mengenai reinterpretasi ayat-ayat feminisme.
Ia memandang ikhtilath (pergaulan) maskulin-feminim sebagai sesuatu yang lumrah dan legal baik sendiri, duduk berdua antara laki-laki dan perempuan, maupun diskusi dan duduk bersama antara laki-laki dan perempuan. Ia menganggap pembatasan yang diyakini sebagai pardah adalah hanya berlandaskan pada identifikasi perempuan sebagai pemuas nafsu kaum laki-laki dan menutup ruang ekspresinya.
Setelah itu ia beralih pada pembahasan tentang nikah mut’ah. Ia menyebutnya sebagai halal dan lebih merupakan solusi social bagi muda-mudi yang belum siap menikah dari sisi biaya.
Kemudian kajian ia lanjutkan dengan kritisi mengenai poligami. Ia memandang poligami adalah tidak boleh.
Terakhir ia mengomentari perihal hijab. Yaitu redefinisi hijab sebagai busana muslimah.

Isi buku ini cukup menggelitik, menarik untuk dibaca dan dikaji, dianalisa serta dikritisi.

About these ads
  1. dildaar80
    Desember 6, 2010 pukul 4:00 am | #1

    Isi buku ini cukup menggelitik, menarik untuk dibaca dan dikaji, dianalisa serta dikritisi.

    Saya tidak menemukan kajian, analisa dan kritik dari peresensi..hanya menjelaskan..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: